Surat Untuk Rosie (i)
March 07, 2019Cukup, Rosie.
Ini sudah berhari-hari.
Katakan padaku,
Kemana lenyapnya kobaran api?
Pemantiknya tak ada lagi, kah? Bara-baranya sudah habis, kah? Badai hujan kemarin mengguyurnya, kah?
Kemana hilangnya fantasi-fantasi?
Suara kokok ayam di seberang mengenyahkannya, kah? Realita meremehkannya, kah?
Kemari, Rosie, kemari.
Bukankah kita dari awal sudah berjanji, diantara banyaknya kumpulan bulat bunga Kochia; dekap erat seluruhnya.
Iya seluruhnya, tidak peduli detailnya, rasanya; sedih atau bahagia.
Awan kelabu, badai, atau topan, semua berputar seperti siklus, Rosie.
Hanya soal waktu kapan kemunculannya—mungkin kau tidak akan bisa tahu, atau prediksinya keliru.
Percuma saja semua amarah, teriakan, usiran, cercaan.
Ia tidak pergi dengan cara-cara itu.
Jalan satu-satunya adalah dengan membawanya bersamamu.
Meleburnya kedalam jiwa.
Berdamaian, Rosie.
Tidak apa, tidak apa.
Semua manusia—termasuk aku juga—punya gangguan yang serupa di dunia.
Memang menyebalkan sekali rasanya.
Aku tahu ini akan menjadi pekerjaan yang tidak mudah—tapi bukan berarti tidak bisa.
Ada aku, Rosie, temanmu.
Kita bergerak, bersisian, bersama-sama.
Saling menggenapi, menopang.
Aku tidak akan pergi dan sebaliknya.
Ayo, Rosie, bangun.
Kita pulang.
Akan kubantu nyalakan lagi api di tungku milikmu.
Katakan padaku,
Kemana lenyapnya kobaran api?
Pemantiknya tak ada lagi, kah? Bara-baranya sudah habis, kah? Badai hujan kemarin mengguyurnya, kah?
Kemana hilangnya fantasi-fantasi?
Suara kokok ayam di seberang mengenyahkannya, kah? Realita meremehkannya, kah?
Kemari, Rosie, kemari.
Bukankah kita dari awal sudah berjanji, diantara banyaknya kumpulan bulat bunga Kochia; dekap erat seluruhnya.
Iya seluruhnya, tidak peduli detailnya, rasanya; sedih atau bahagia.
Awan kelabu, badai, atau topan, semua berputar seperti siklus, Rosie.
Hanya soal waktu kapan kemunculannya—mungkin kau tidak akan bisa tahu, atau prediksinya keliru.
Percuma saja semua amarah, teriakan, usiran, cercaan.
Ia tidak pergi dengan cara-cara itu.
Jalan satu-satunya adalah dengan membawanya bersamamu.
Meleburnya kedalam jiwa.
Berdamaian, Rosie.
Tidak apa, tidak apa.
Semua manusia—termasuk aku juga—punya gangguan yang serupa di dunia.
Memang menyebalkan sekali rasanya.
Aku tahu ini akan menjadi pekerjaan yang tidak mudah—tapi bukan berarti tidak bisa.
Ada aku, Rosie, temanmu.
Kita bergerak, bersisian, bersama-sama.
Saling menggenapi, menopang.
Aku tidak akan pergi dan sebaliknya.
Ayo, Rosie, bangun.
Kita pulang.
Akan kubantu nyalakan lagi api di tungku milikmu.
0 comments